• 024-6730 956

Seikat Simpul dan Janji yang Berat

  • By : winaalhusna.com
  • 25 January 18, 11:36
Seikat Simpul dan Janji yang Berat

Jejak-Jejak Pergantian Tahun Baru Saja Lewat. Gembita Dan Hiruk Pikuk Malam Masih Terus Menggempur Langit. Di Ranjangnya, Karimah Gundah. Bukan.., Ia Tak Sedang Digeramkan Oleh Dentum Mercon Dan Lengking Terompet. Baginya, Kedua Benda Itu Bahkan Tak Mampu Mengusik Resahnya Yang Kian Tajam Menukik, Nun Di Ceruk Terdalam Hatinya.

SETANGKAI AYAT
Karimah nanar menatap kalender yang baru saja digantinya. Tahun ini usianya akan genap 30 tahun, dan sebentar lagi tamat sudah penantian panjangnya sebagai seorang jombloer. Ia merasa seolah-olah setiap orang yang dijumpainya akan merewind daftar pertanyaan usang yang sama, “Kapan nikah?”“Cari yang seperti apa sih?”,“Apa nggak bosan ngejomblo terus?” dan ia akan segera membungkamnya!     Namun, kegundahan Karimah toh tak serta merta sirna. Ia justru sedang berurusan dengan inti keresahannya, yaitu hakikat dan tujuan pernikahan. Dunia apakah itu?                

Kegelisahan Karimah di satu sisi dan cecaran pertanyaan orang di sisi yang lain adalah cermin bahwa pernikahan bukan saja merupakan sunnah yang telah ditetapkan-Nya, melainkan juga telah menjadi status-sosial atas kesempurnaan pemahaman seseorang terhadap integritas hidupnya. Tak ada seorang manusia pun yang sanggup melawan ketetapan ini, sehingga saat orang memilih untuk masih membujang masyarakat akan “menghakiminya” dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggugat.

Sebagai bagian dari ayat Allah, ketetapan kebutuhan menikah bagi manusia berada dalam pusaran kesyukuran: diawali dan diakhiri dengan puji-pujian kepada Sang Khaliq.”MahasaciAllah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka sendiri maupun dari apa yang tidak mereka ketahui(QS. Yaasin [36] .36). 

Hal ini menunjukkan bahwa titik berangkat hakikat pernikahan adalah sikap syukur kepada Allah, yaitu dipilihNya manusia sebagai makhluk berperadaban, yang komunikasi antar-sesamanya diposisikan pada tempat yang agnng dan mulia. Kesyukuran atas titah pernikahan lalu mengalir dalam bentuk interaksi vertikal-harisontal (baca: ibadah) sehari- hari, yakni Allah sebagai sumber hukum (hablumminallah) dan tanggung jawab penafkahan kepada manusia (hablum- minanna.s) sebagai ikatan komitmennya. Muara kesyukuran itu kembali kepada Allah, yakni bahwa dengan pernikahan Allah memberikan mekanisme pelanjutan kehidupan dengan keturunan sekali- gus petunjuk-petunjuk pembentukan generasi yang baik.” Wahai manusia, sesunggnhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorangperem- puan dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesunggnhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi MahaMengenal.” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

“Tujuan pernikahan itu berada dalam dua misi besar, yaitu misi peribadatan dan misi kemanusiaan,” kata Ustadz Amang Svafruddin, Pemimpin Pesantren Al-Qudwah, Depok. Misi peribadatan dalam pernikahan, tutur Amang, terkandung dalam perintah Allah dan contoh Rasul tentang petunjuk- pelaksanaan pernikahan (QS. An-Nurr [24]: 32). Perintah dan contoh ini kemu- dian menjadi landasan manusia untuk melaksanakan setiap perintah Allah dan rasul-Nya. Sementara misi kemanusiaan pernikahan bertujuan menjaga keber- langsungan kehidupan manusia.

SEIKAT SIMPUL
Misi pernikahan yang bertitik-tolak dari ibadah kepada Allah dan interaksi dengan manusia, diatur dalam Islam dengan memposisikan peristiwa pernikahan sebagai komunikasi- kesepahaman- kesepakatan yang menghasilkan simpul ikatan. Inilah mekanisme yang dirancang Allah sebagai media yang mempertemukan perasaan dan akal, mendapat tempat yang tepat untuk diekspresikan secara benar dan halal.

“Hubungan khusus antara laki-laki dan perem- puan terjadi secara alami karena adanya gharizatun naw’(naluri seksual/berketurunan). Sebagai sistem hidup yang paripurna, Islam sesuai dengan fitrah manusia. Karenanya Islam tidak melepaskan kendali naluriseksual secara bebas yang dapat membahayakan diri manusia dan kehidupan masyarakat. Islam telah membatasi hubungan khusus pria dan wanita hanya dengan pernikahan,” kata Asmawi H. Rawi, Sekretaris Pengadilan Agama Serang.Dengan simpul yang terikat dalam lembaga pernikahan, terang Asmawi, akan tercipta kondisi masyarakat penuh kesucian, kemuliaan, menjaga kehormatan setiapanggotanya, dan dapat mewujudkan kelestarian keturunan umat manusia.

Senada dengan Asmawi, model masyarakat seperti ini dalam pandangan Amang Syafruddin dapat menjadi katalisator bagi penyempurnaan agama, perolehan keturunan, penjagaan kehor¬matan diri, kestabilan antara emosi dan mental, mengasah tanggung jawab, dan menjalani sunah Nabi.

JANJI YANG BERAT
Terpilihnya manusia sebagai makhluk yang mengemban tugas kekhalifahan, membuat pernikahan menjadi ayat yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi tak ringan. Dengan amanah pengaturan kehidupan bumi, manusia berada dalam situasi yang mengharuskan dirinya terlibat dalam hubungan dua-arah dengan manusia berjenis kelamin berbeda, yaitu perempuan.
Dalam Al-Quran, Allah swt menciptakan peristilahan akad nikah dengan sebutan mitsaqun ghalizh (janji yang berat). Bobot berat istilah ini sudah “tercium” dari kata dan jumlah penyebutannya; Allah hanya menyebut tiga kali istilah ini.

Pertama, untuk urusan pernikahan (QS. An-Nisaa [4]: 21) Kedua, untuk perjanjian antara Allah dan para nabi dalam tugas penyampaian risalah (QS. Al-Ahzab [33]: 7)Ketiga, untuk urusan janji Bani Israil kepada Allah dalam tugas mengemban risalah tauhid di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 83).

Dengan mengacu kepada makna istilah mitsaqun ghalizh dan jumlah penyebutannya, tentu ini mengisyaratkan bahwa pernikahan merupakan hubungan yang mengandung konsekuensi besar, sebagaimana konskuensi para nabi dan Bani Israil.

“Dalam sebuah pernikahan, setiap rumah tangga pasti tak luput dari konflik. Diperlukan seni mengelola mentalitas. Apakah menjadikan konflik sebagai proses belajar atau sebaliknya, rumah tangga berantakan karenanya,” ujar Ustadz Nurul Huda Haem, pendiri Super Family Consulting. 

Menurut ustadz yang kerap disapa Enha ini, mitsaqun ghalizh dapat menginspirasi pasutri untuk memperlakukan pernikahan sebagai sekolah kehidupan tempat para anggota keluarga belajar tentang perjuangan, pengorbanan, kasih sayang, dan kerukunan. Di sinilah pasutri dapat membentuk rumah tangga menjadi media penenang jiwa dan penenteram hati. 

“Karena itulah kami merumuskan kapsul JITU untuk menyikapi konflik : Jernihkan emosi, Inisiatif untuk memulai. Tentukan tema persoalan, dan Undang Allah untuk turut menyelesaikan,” kata Enha, membuka rahasia pernikahannya dengan Nunung Ummu Kalsum yang kini telah memberinya empat orang anak. 

Jurus ‘kapsul’ JITU yang diperkenalkan Enha didasari pada keterlibatan Allah dalam upaya solutif atas setiap persoalan yang menghadang pasutri. Di titik ini, mitsaqun ghalizh memanjt bersinggungan dengan ego pribadi, tapi justru pasutri sekaligus juga menemukan jalan keluarnya.

Enha mencontohkan pernikahannja sendiri. Usianya yang hanya terpaut usia tujuh bulan dengan istri, dia rasakan sebagai tantangan tersendiri. Pada tahun pertama dan kedua pernikahan, sesekali terjadi konflik. Penyebabnya karena memang di antara keduanya belum terlalu mengenal “kebiasaan” masing-masing. Namun, tekad kuat mereka mencapai pernikahan islami menjadikan konflik tak lebih sebagai bumbu penyedap dalam kehidupan rumah tangga. Menyelesaikan masalah dengan shalat bersama lalu berdoa, lantas saling komunikasi dari hati ke hati dan berpelukan sambil menangis, merupakan hal yang paling sering dilakukan Enha bersama istrinya.

“Bukan cuma soal konflik tapi juga masalah finansial, pendidikan anak, hubungan dua keluarga, dan masalah apapun. Kami sadar, dengan melibatkan Allah masalah menjadi lebih ringan,”papar Enha.

Sumber: Majalah Ummi Bahagia


Komentar

Tinggalkan Pesan

Artikel

Memilih Calon Istri

Memilih Calon Istri

Setiap manusia menginginkan kebahagiaan. Ya iya lah, siapa yang pingin sengsara.

Memperoleh Mahar Yang Berkah

Memperoleh Mahar Yang Berkah

Mahar’ memang tak asing lagi di telinga kita. Apalagi bagi yang telah menikah

Syarat Resepsi Pernikahan Menurut Pandangan Islam

Syarat Resepsi Pernikahan Menurut Pandangan Islam

Seperti yang kita ketahui bersama, pernikahan adalah peristiwa agung bagi setiap

Menikah ala Islam, Mudah, Murah dan Berkah

Menikah ala Islam, Mudah, Murah dan Berkah

Adalah menjadi karakteristik khusus Islam bahwa setiap ada perintah yang harus d

Menikah Dengan Yang Sekufu (seimbang)

Menikah Dengan Yang Sekufu (seimbang)

Menikah merupakan suatu hal yang sakral, bukan hanya bertujuan membuat sebuah ke

Seikat Simpul dan Janji yang Berat

Seikat Simpul dan Janji yang Berat

Jejak-Jejak Pergantian Tahun Baru Saja Lewat. Gembita Dan Hiruk Pikuk Malam Masi

Tips memilih Catering Service

Tips memilih Catering Service

Memilih catering service yang baik memang sangat penting. Kita harus jeli dalam